11.07.2013

Resmi Jadi Anak Kost

Sudah 3 hari berlalu sejak saya tiba di Ibu Kota dengan eksotis. Karena tuntutan profesi yang mengharuskan saya tinggal di Jakarta untuk sementara waktu, walaupun pada awalnya saya tidak mau, tp mau gimana lagi?

Sebelum pergi terpikirkan beberapa hal yang harus dipersiapkan, seperti baju mana saja yang akan dibawa, peralatan mandi, sendal jepit, nama samaran, dll. di Jakarta nama masih Asep? oh no! sempat ditertawakan oleh penjaga kos ketika registrasi, entah karena nama nya yang lucu, orang nya yang lucu, atau gaya bicaranya yang lucu karena untuk menyebutkan kata "Asep" saja butuh energi yang sangat besar, bagi saya.


Teringat pada hari itu, beberapa tahun yang lalu saya mengalami suatu hal yang tidak pernah terpikirkan, yaitu kesulitan berbicara pada situasi tertentu. Situasi tersebut sampai sekarang belum bisa saya pecahkan, karena datang nya selalu random, seperti gerakan kecoa ketika terbang. random..

Kembali ke permasalahan,.. kendaraan pertama yang saya naiki ketika tiba di Jakarta adalah Bus Trans Jakarta atau yang sering disebut Busway. Agak aneh sih emang kenapa disebut Busway? bukannya Busway itu jalur yang dikhususkan bus Trans Jakarta? entahlah,.

Berbeda dengan bus-bus lain yang sering saya hindari untuk menaikinya, Bus Trans Jakarta ini tidak memiliki aroma pada bus-bus lain, lebih mirip Roller Coaster sih, cuman agak lebih murah aja,. dengan kecepatan tinggi, belokan tajam, sampai-sampai saya harus memegang kuat pegangan yang ada di atas,. lama-lama tangan saya bisa berotot tuh, seperti apa yang teman saya katakan "Naik Bus Trans Jakarta bisa sambil Pull Up" - (Upil, 21 tahun, jomblo).


Esok hari setelah tiba di Jakarta, saya dan teman-teman yang lain bergegas untuk pergi ke tempat kerja, Fujitsu Indonesia. Teringat satu episode Spongebob yang menceritakan hidup seperti manusia normal, itu lah kami di Jakarta. Bangun, mandi, kerja, pulang, mandi, tidur, bangun.. dst. Seperti sirkulasi air di akuarium, terus berulang.

Hari pertama kerja adalah hari ter-awkward mungkin bagi saya, ketika 6 dari 7 orang berpakaian sangat rapi, sedangkan saya menggunakan calana jeans, kemeja dikeluarkan, sepatu bukan pantovel, rambut gondrong, dan masih jomblo. Sempat merasa deg-degan, takut disinggung masalah penampilan di tempat kerja, ternyata tidak. Ketika sampai sana, saya dan teman-teman meeting dengan manajer Fujitsu Indonesia yang mirip Arsene Wenger itu dan tidak ada satupun yang membahas penampilan. Mungkin karena kualitas kerja yang menjadi prioritas utama disini.

Pemandangan sehari-hari saya dikator kurang lebih seperti ini..


tampilan itu mengingatkan saya kepada beberapa adegan pekerja-pekerja kantoran yang sering muncul di sinetron..

Ternyata hidup di Jakarta tidak sekeras yang dibayangkan sebelumnya, selama kita punya pekerjaan, tempat tinggal, uang, dan kita mau tinggal di Jakarta. oh satu lagi, selama ada kipas angin di kosan...

2 comments: