1.12.2014

Karakter Dalam Penulisan

Suatu ketika, saya ikut semacam seminar di ITB (lupa nama acaranya), dimana dalam seminar itu diberikan pengetahuan tentang bagaimana membuat karakter game. Baik dari bentuk, sifat, gestur, dll. Misalnya, ketika kita ingin membuat karakter game yang keras kepala, kita bisa membuat wajahnya dengan melihat batu. Ketika kita ingin membuat karakter game yang galak, kita bisa membuat wajahnya dengan melihat Singa. Aneh kan? Ya, tapi itulah caranya agar sifat-sifat tersebut bisa terlihat dari wajahnya.

Didalam sebuah karya tulis tentunya akan ada karakter didalamnya, baik itu si penulis atau orang lain. Terutama jika tulisan itu tulisan fiksi. Masalahnya adalah bagaimana membuat 'sifat' para karakter itu dalam sebuah cerita agar cerita itu menarik?

Buatlah setiap karakter dalam cerita itu tidak sempurna. Harus selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan lebih baik lagi jika kekurangan itu lebih banyak dari pada kelebihannya. Kalaupun nanti memang dibutuhkan karakter yang sempurna, buatlah karakter tersebut jarang muncul dalam cerita. Kita ambil contoh pada film Doraemon.

Doraemon 
Punya segalanya didalam kantong ajaibnya, tapi takut sama hal kecil, tikus.
Nobi Nobita
Sebagai karakter utama dalam film itu memiliki sifat baik hati tapi memiliki sifat malas, manja, cengeng dan sering di bully teman-temannya.
Suneo Honekawa
kaya raya, tapi sombong, penakut, dan masih ngompol ketika tidur :)
Shizuka Minamoto
Cantik, tapi tidak bisa merespon kode yang selalu diberikan Nobita #lah.
Takeshi Goda
Besar dan kuat, tapi tempramental dan suaranya jelek. (lol)

Selain itu, ada karakter yang sangat sempurna. Siapa?

Dekisugi
Pintar, Baik dan Ganteng. Tapi Dekisugi sangat minim sekali muncul dalam serial Doraemon. Hanya sekali-kali jika memang dibutuhkan,.

Semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan baik pembaca atau penulis..

Sumber karakter Doraemon.

1.01.2014

Tahun Baru


Tahun baru, tak banyak yang saya bawa dari tahun lalu, kecuali bekas luka karena kemarin jatuh dari motor. Malam tahun baru, banyak kendaraan dari luar kota, masuk ke bandung, dan buang sampah sembarangan, tak sedikit juga kendaraan asal bandung yang melakukan hal serupa. lempar tisu, lempar rokok, dll tapi tidak semua. mungkin mereka menganggap bahwa sampah organik tidak apa2 dibuang sembarangan, tp tidakkah mereka tahu bahwa ada tempat sampah khusus sampah organik?

Seandainya semua orang sabar,. pasti kehidupan akan lebih baik. ya, sabar untuk tidak membuang sampah sembarangan, sabar untuk kaya (tidak korupsi, tidak merampok, dan bahkan tidak musyrik), sabar tidak membunyikan klakson di lampu merah padahal baru saja hijau, dan masih banyak lagi.
sebagian orang berkata "Sabar itu ada batasnya", tapi menurut saya tidak begitu..

"Sabar itu tidak berbatas, hanya manusia itu sendiri yang membatasinya."

sabar itu seperti otot lumba-lumba kok, bisa dilatih.. haha

Tahun lalu begitu banyak kejadian yang menguji kesabaran saya. sejak saat itu, saya punya definisi baru tentang sabar..

"Kesabaran itu bukan tentang batasan, tapi tentang masih pantaskah orang itu kita berikan kesabaran?"

coba bayangkan jika semua orang sabar..

mungkin setiap kendaraan memiliki tempat sampah didalamnya, sehingga tidak akan terlihat lagi sampah keluar dari jendela kendaraan, dan setiap orang akan memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga ketika mereka ingin membuang sampah dan tidak ada tempat sampah, mereka menyimpannya didalam saku sampai menemukan tempat sampah..

mungkin bunyi klakson di jalan hanya untuk menyapa teman, tidak ada serobot2an kendaraan, tidak ada mobil yang berhenti di RHK, tidak ada yang nerobos lampu merah walaupun terlihat kosong..

mungkin Indonesia akan menjadi negara makmur, tidak ada koruptor, tidak ingin mengambil uang orang lain hanya untuk memenuhi nafsunya saja, karena setiap orang ingin sukses, ingin kaya, tapi mereka sabar.. dan walaupun mereka tak kunjung sukses dan kaya, mereka hanya berkata "belum rezekinya".. ah! indahnya jika semua orang seperti itu..

"Oke! resolusi tahun depan saya akan menjadi lebih baik!" 

perkataan itu saya rasa tak perlu, tak perlu nunggu tahun depan untuk melakukan sesuatu, bagaimana jika diubah menjadi "Oke! resolusi besok, saya akan menjadi lebih baik", atau bahkan

"Oke! Sekarang saya harus lebih baik!"

Mungkin ada yang berpikiran "Emangnya sabar itu segampang nulis ini!! hah?", 2 hal yang harus diperhatikan. Pertama, nulis ini gak gampang haha, yang Kedua, sabar juga gak gampang. Kalo sabar itu gampang, untuk apa ada keistimewaan dalam kesabaran?

"Sesungguhnya, Tuhan bersama orang-orang yang sabar."

dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Ketahuilah, bahwasanya (perumpamaan) sabar dengan iman seperti kepala dengan badan. Jika kepalanya terpotong maka binasalah badannya.

Susah sih, tapi (Insya Allah) bisa!

#NTM